Keilmuan dakwah
dewasa ini semakin intens dibicarakan diberbagai forum baik dilakukan melalui
seminar maupun kajian didunia akademis. Pembahasan ilmu dakwah ini sering
dikaitkan dengan berbagai disiplin ilmu kainnya. Bisa dilihat dalam pembahasan
keagamaan terdapat beberapa ilmu yaitu tafsir, hadits, fiqh, filsafah, nahu dan
saraf. Dakwah secara praktis senantiasa melibatkan keilmuan lain seperti sosiologi,
psikologi, antropologi, hukum, pendidikan dan sejarah. Sementara dalam
sperpektif dakwah, individu atau masyarakat adalah berfungsi sebagai subjek dan
objek dakwah. Oleh karena itu, secara makro, eksistensi dakwah senantiasa
bersentuhan dan bergelut dengan realitas sosio-kultural yang mengitarinya.
Konsekuensi dari pengumulan dakwah itulah yang menyebabkan ilmu-ilmu lain
diperlukan dukungannya bagi pengembangan dakwah sebagai suatu disiplin ilmu.
Mengingat begitu kentalnya ilmu dakwah dengan ilmu-ilmu lainnya, maka dalam
tulisan ini dicoba untuk menarik titik singgung atau korelasi diantara keilmuan
dakwah dengan bidang keilmuan lainnya. Dengan tujuan agar ilmu dakwah dapat
menjawab dan berdaya guna dalam mengatasi berbagai problematika hidup manusia dengan
segala tantangan yang dihadapinya. Dengan kata lain agama benar-benar menjadi
rahmat bagi sekalian alam. Ilmu dakwah sebagai salah satu cabang ilmu agama
islam, dalam operasionalisasinya berpijakm pada landasan agamawi di satu pihak
dan realitas sosio-kultural di pihak lain. Karena itu Ilmu dakwah berat
hubungannya dengan ilmu-ilmu lain. Sebaimana terlihat dalam uraian berikut ini.
B.Rumusan Masalah
1.Apa sajakah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan
ilmu dakwah ?
2.Bagaimana hubungan antara ilmu dakwah dengan
ilmu-ilmu lainnya ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.Ilmu-ilmu yang berhubungan dengan
ilmu dakwah
Ilmu-ilmu
yang berhubungan dengan ilmu dakwah, yaitu:
1.Ilmu Psikologi
2.Ilmu Konseling
3.Ilmu Komunikasi
4.Ilmu Penyuluhan
5.Ilmu Sosiologi
B.Hubungan Ilmu Dakwah dengan
Ilmu-ilmu lainnya
1.Ilmu Psikologi
Psikologi islam adalah kajian tentang islam yang dilihat
dari pendekatan psikologis. Substansi keilmuannya diturunkan dari alquran,
assunnah, dan pemikiran para ulama islam yang dalam hal ini juga berkaitan
dengan ilmu dakwah untuk kemudian dikaji, dianalisis, dan diteliti melalui pendekatan
psikologis.[1]
Ilmu ini berkaitan dengan proses
mental baik normal maupun tidak. Dan pengarunya pada perilaku ilmu pengetahuan
tentang gejala dan kegiatan jiwa. Sehingga seorang dai perlu mengetahui tentang
psikologi untuk dapat mengerti keadaan seorang pendengar , sehingga nyaman
dalam menyampaikan materi dan untuk mengetahui jenis dan sifat manusia yang
sedang dihadapi.
2.Ilmu Konseling
Agama sangat menyentuh iman, taqwa, dan akhlak. Jika iman
kita kuat maka ibadah kita akan lancar, termasuk berbuat baik terhadap sesama
manusia, karena terbentuk akhlak yang mulia. Hubungan ilmu dakwah dengan ilmu
konseling yaitu dalam kita menangani sebuah pemecahan masalah kita harus selalu
menggunakan metode-metode dakwah, dengan penuturan yang lembut dan menggunakan
bahasa agama. Agar orang yang mempunyai masalah tersebut terasa senang dan
tentram saat berbicara dengan yang menangani.
Dalam
hal itu, perlu ditegaskan bahwa masalah-masalah yang menjadi objek garapan
konseling adalah masalah-masalah psikologis, bukan masalah fisik. Masalah fisik
ini diserahkan kepada bidang yang relevan, misalnya kedokteran. Jadi, dalam
kasus tertentu yang melibatkan fisik, terlebih dahulu ditangani fisiknya oleh
dokter, baru kemudian masalah psikologisnya ditangani oleh konselor.
Kegiatan dakwah
adalah kegiatan yang membimbing umat manusia untuk melaksanakan kebaikan dan
menjauhi kemungkaran, tentu ilmu konseling mempunyai andil yang besar bagi ilmu
dakwah. Metode-metode yang dapat dipakai dalam ilmu dakwah adalah ilmu-ilmu
yang digunakan dalam metode konseling. Ketika masyarakat mengalami goncangan
batin, maka persoalannya dapat diselesaikan melalui metode konseling dan pendekatan
keagamaan salah satu metode ilmu dakwah.
3.Ilmu Komunikasi
Kegiatan dakwah adalah suatu kegiatan komunikasi. Dimana dai
mengkomunikasikan pesan kepada mad’u, perorangan atau kelompok. Secara teknis
dakwah adalah komunikasi antara dai dengan mad’u. Semua hukum yang berlaku
dalam komunikasi berlaku juga dalam dakwah. Dakwah juga dapat melalui
komunikasi seperti berdakwah khitobah, tabligh akbar, media massa, dan jejaring
sosial media.
Dalam hal ini, dakwah ditinjau dari segi komunikasi,
merupakan suatu proses penyampaian pesan-pesan berupa ajaran islam yang
disampaikan secara persuasive, dengan harapan agar komunikasi dapat bersikap
dan berbuat amal shalih sesuai ajaran yang didakwahkan. Pada konteks inilah
kemunculan mubaligh-mubaligh ternama yang dipopulerkan melalui media massa
(terutama televisi).
Dalam surat an-Nur ayat 55,
menjelaskan keilmiahan proses dakwah tersirat dalam ayat tersebut, bahwa
landasan pokok dakwah adalah iman dan amal saleh yang berlandasan ilmu
pengetahuan, sedangkan dasar pelaksanaannya adalah pengelihatan, logika, dan
kebenaran. Dakwah islamiah bermakna dakwah sebagai ilmu pengetahuan dan dakwah
sebagai proses kerja. Dapat dipahami bahwa dakwah islamiah itu pada prinsipnya
merupakan “ komunikasi yang islami “, atau dengan kata lain dakwah islamiah
merupakan ilmu pengetahuan yang berakar pada ilmu komunikasi dengan sifatnya
yang islami.[2]
4.Ilmu Penyuluhan
Secara umum, istilah penyuluhan dalam bahasa sehari-hari
sering digunakan untuk menyebut pada kegiatan pemberian penerangan kepada
masyarakat. Baik oleh lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah.
Terlihat dari pengertian ini, arti penyuluhan ini lebih luas, maka untuk
menjaga kerancuan biasanya ada yang tetap menggunakan istilah konseling saja
untuk hal yang khusus (didunia pendidikan atau lembaga pelayanan konseling) dan
penyuluhan untuk aktivitas umum.
Berkaitan dari pada ini, ilmu dakwah sangat berperan dalam
membantu jalannya proses penyuluhan. Dengan adanya ilmu dakwah, penyuluhan
dapat berlangsung sistematis, sehingga penyuluhan itu bisa memberikan
materi-materi tentang dakwah.
5.Ilmu Sosiologi
Sebagai sebuah ilmu, sosiologi
merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran
ilmiah dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. Kelompok
tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, Negara, dan berbagai organisasi
politik, ekonomi, sosial. Hubungannya dengan ilmu dakwah adalah saling
membagikan informasi atau mensosialisasi ilmu pengetahuan terhadap masyarakat.[3]
Agama islam tidak melupakan hakekat
manusia, yang selalu berbeda-beda kemampuan dan pembawaanya dalam mencapai yang
lebih baik menurut apa yang dicitacitakannya. Maka sifat pendekatan dakwah
islamiah berkisar pada :
1.Bersifat
informasi
Tidak bisa disangkal lagi bahwa komunikasi sangat besar peranannya
dalam pembentukan kelompok masyarakat. Demikian pentingnya, sehingga William
Albig ( 1956 ) selaku pakar komunikasi menyatakan bahwa komunikasi merupakan
dasar dari proses sosial. Jelasnya Albig menyatakan bahwa: “Communication is
the fundamental of social process”. Kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa
lahirnya kelompok dalam masyarakat adalah karena adanya komunikasi yang
bermuara pada terbentuknya sistem sosial.
2.Bersifat
mendidik
Selain informasi, dakwah islamiah juga bisa bersifat mendidik,
membentuk kepribadian umat manusia yang Islami. Pembentukan kepribadian
dimaksud tidak terbatas pada masalah-masalah yang berhubungan dengan ibadah
saja, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan manusia seperti masalah
etika.
3.Bersifat
membimbing
Selain bersifat informasi dan mendidik, dakwah islamiah juga
bersifat membimbing, mengarahkan, dan memberi petunjuk kepada manusia tentang
kelemahan pemahamannya terhadap sesuatu. Mengenal lemahnya manusia dalam
memahami suatu masalah.[4]
Pendekatan dakwah dengan
cara demikian memiliki hikmah tersendiri bagi objeknya, yaitu dengan
mengemukakan alternatif yang menimbulkan kesadaran objek dakwah lebih mudah
ketimbang dengan cara lain. Melalui pendekatan demikian, objek dakwah merasa
memperoleh bimbingan, bahkan memperoleh kesempatan yang luas untuk berpikir dan
merenungkan “ Apakah benar tindakan yang dilakukan ini mengandung kebaikan atau
tidak “.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Ilmu Dakwah adalah suatu ilmu yang
berisi cara-cara dan tuntutan untuk menarik perhatian orang lain supaya
menganut, mengikuti, menyetujui/ melaksanakan suatu ideology, agama, pendapat/
pekerjaan tertentu. Ilmu dakwah sebagai cabang ilmu agama islam, dalam
operasionalisasinya berpijak pada landasan agamawi di satu pihak dan realitas
sosio kultural di pihak lain. Karena itu ilmu dakwah berat hubungannya dengan
ilmu-ilmu lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Ma’arif,
Bambang Saiful. 2015. Psikologi Komunikasi Dakwah. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media
Suhandang,
Kustadi. 2013. Ilmu Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sumadiria,
Haris. 2014. Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama
Media
http://wwwdeviqomalasari.blogspot.com/2016/02/
[1] Dr. Bambang
Saiful Ma’arif, M.Si., Psikologi Komunikasi Dakwah, Bandung, 2015
[2] Drs. Kustadi
Suhandang, Ilmu Dakwah, Bandung, 2013, hlm 12-13
Telah diketahui bahwa manajemen terus berkembang hingga saat ini.
Ilmu manajemen memberikan pemahaman kepada kita tentang pendekatan ataupun tata
cara penting dalam meneliti, menganalisis dan memecahkan masalah-masalah yang
berkaitan dengan manajer.
Manajemen adalah suatu bentuk praktik yang pernah dilakukan oleh
beberapa organisasi di masa lampau ( tepatnya pada era prasejarah ) tetapi
memiliki suatu disiplin akademik baru. Sejak itu, pengetahuan tentang manajemen
tumbuh dan berkembang secara pesat dan cepat.
Pertumbuhan pengetahuan manajemen berkembang secara tidak berurutan
yang didasarkan pada fokus tertentu. Karena, pengetahuan manajemen datang dari
aneka ragam latar belakang akademis yang berbeda, sehingga memunculkan bermacam
prespektif teoritis, dan tidak ada teori manajemen yang berlaku umum, karena
pengetahuan manajemen berisikan beberapa persaingan dengan berbagai prespektif
yang bersifat parsial teoritis. Pada makalah ini, akan menjelaskan tentang faham/ aliran manajemen dan administrasi,
bapak ilmu manajemen dan teori manajemen modern, dan pionir -pionir manajemen.
Tinjauan ini diharapkan agar dapat memudahkan
pembacauntuk mengetahui dan memahami
hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran manajemen guna memahami
disiplin manajemen.
B.Rumusan Masalah
1.Apa saja faham/ aliran manajemen dan administrasi ?
2.Siapakah bapak ilmu manajemen ?
3.Bagaimanakah teori manajemen modern ?
4.Siapakah pionir – pionir manajemen ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.Faham/ Aliran Manajemen dan Administrasi
Teori dan prinsip manajemen memberikan
kemudahan dalam menentukan hal-hal yang harus dikerjakan untuk dapat secara
efektif menjadi seorang manajer, yaitu orang yang menjalankan fungsi manajemen.
Manajer dalam mengelola otoritasnya tanpa menggunakan teori dan prinsip,
aktivitas berjalan hanyalah firasat dan harapan sehingga hasilnya tidak akan
memberikan kepuasan kepada berbagai pihak.
Ellen A. Benowitz, seperti halnya
Stephen P. Robbins, melakukan pemetaan atas perkembangan pemikiran manajemen. Benowitz
membaginya ke dalam 5 kategori perkembangan pemikiran yaitu: (1) Classical
School of Management (Aliran Manajemen Klasik), (2) Behavioral
Management Theory (Teori Manajemen Perilaku), (3) Quantitative School of
Management (Aliran Manajemen Kuantitatif), (4) Contingency School of
Management (Aliran Manajemen Kontijensi), dan (5) Quality School of
Management (Aliran Manajemen Kualitatif). Masing-masing tahap perkembangan
pemikiran tersebut masih dapat dibagi lagi ke dalam sub-sub pemikiran seputar
manajemen.[1]
a.Aliran Manajemen Klasik
Teori manajemen klasik terbentuk sebagai upaya menemukan cara
terbaik untuk memanajemen dan mengerjakan pekerjaan. Aliran Manajemen Klasik (Classical
School of Management) terdiri atas dua cabang: Aliran Saintifik Klasik dan
Aliran Administrasi Klasik.
1)Aliran
Saintifik Klasik (Classical Scientific School)
Aliran ini muncul akibat adanya kebutuhan untuk meningkatkan
produktivitas dan efisiensi. Penekanannya pada bagaimana menemukan cara terbaik
untuk menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan dengan cara menguji bagaimana
sesungguhnya proses kerja dilakukan serta keahlian apa yang dibutuhkan oleh
pekerja dalam proses kerja tersebut. Dan tokoh-tokoh yang berperandidalamnya adalah Frederick Taylor, Henry
Gantt, Frank dan Lillian Gilbreth.
2)Aliran
Administrasi Klasik (Classical Administrative School)
Aliran Administrasi Klasik ini berkonsentrasi pada organisasi
secara keseluruhan. Penekanannya lebih pada bagaimana menciptakan
prinsip-prinsip manajerial daripada cara-cara kerja yang baru. Tokoh-tokoh yang
berperan didalamnya adalah Max Weber, Henri Fayol, Mary Parker Follett, dan
Chester Irving Barnard.[2]
b.Aliran Manajemen Perilaku
Penekanan
pemikiran manajemen pasca aliran klasik ada di seputar interaksi dan motivasi
individu di dalam organisasi. Pemikiran di era aliran manajemen ini
dikembangkan oleh Hugo Munsterberg yang tertuang dalam buku karyanya, Psicology and
IndustrialEfficiency (1916). Pemikiran manajemen
yang terkandung didalamnya adalah peranan psikologi dalam meningkatkan
produktivitas. Peranan psikologi dalam manajemen untuk meningkatkan produktivitas
organisasi secara efektif, efisien dan optimal meliputi tiga hal :
1)Penemuan orang yang memiliki
sikap mental yang cocok dengan pekerjaan
2)Penemuan kondisi
psikologis agar hasil yang dicapai memuaskan
3)Perlu ditemukan cara
atau metode yang bisa digunakan untuk mempengaruhi pekerjaan agar diperoleh
hasil yang sebaik-baiknya.[3]
Dalam perkembangannya motivasi
menyangkut perilaku manusia dan merupakan sebuah unsur yang vital dalam
manajemen. Ia dapat didefinisikan sebagai pembuat seseorang menyelesaikan
pekerjaannya dengan semangat. Sebuah motivasi bagi seorang manajer adalah tugas
untuk menciptakan kondisi-kondisi kerja yang akan membangkitkan dan memelihara
keinginan yang bersemangat.
Selain Hugo Munsterberg, Elton Mayo dan
Max Weber termasuk dalam pakar-pakar yang mengikuti aliran ini.
c.Aliran
Manajemen Kuantitatif
Aliran manajemen kuantitatif adalah hasil dari riset manajemen yang
diadakan selama Perang Dunia II. Pada saat Perang Dunia II, matematikawan,
fisikawan, serta ilmuwan ilmu-ilmu pasti lainnya menggabungkan diri ke dalam
bidang kemiliteran untuk melawan aliansi Jerman, Jepang, dan Italia.Pendekatan kuantitatif atas manajemen melibatkan penggunaan
teknik-teknik kuantitatif matematika seperti statistik, model informasi, dan
simulasi komputer untuk memprediksi proses pembuatan keputusan. Aliran ini
memiliki beberapa cabang.
1)Manajemen Sains
2)Manajemen Operasi
3)Sistem Informasi Manajemen (SIM)
d.Aliran
Manajemen Kontijensi (Situasional)
Aliran ini
muncul sebagai hasil riset tahun 1960-an dan 1970-an dan sekaligus merupakan
reaksi penolakan atas aliran saintifik. Riset-riset tersebut fokus pada faktor-faktor
situasional yang mempengaruhi struktur dan gaya kepemimpinan organisasi di
aneka situasi berbeda.
e.Aliran
Manajemen Kualitas (Quality School of Management)
Aliran Manajemen Kualitas adalah konsep menyeluruh seputar leading
dan operating suatu organisasi. Yang dimaksudkan untuk meningkatkan
performa kerja organisasi secara terus-menerus dengan fokus pada customer.
Dengan kata lain, Manajemen Kualitas fokus pada bagaimana cara mengorganisasi
secara total untuk menciptakan pelayanan terbaik pada pelanggan.[4]
Munculnya
aliran-aliran tersebut pada perkembangan pemikiran manajemen, ditandai dengan
lahirnya gerakan manajemen ilmiyah yang dipelopori oleh Frederick Winslow
Taylor di Amerika, dan Henri Fayol di Perancis, yang dimulai pada tahun 1886.
2.Bapak Ilmu Manajemen
Dalam
ilmu manajemen F.W. Taylor adalah Bapak Gerakan Manajemen “ Bapak Scientific
Management” karena ialah yang pertama kali mengemukakan idenya tentang
manajemen dengan cara yang serba system ( menggunakan manajemen dengan
metode-metode ilmu pengetahuan ).[5]
Pada
ilmu manajemen ini terdapat pakar-pakar yang memikirkan dan mengembangkan dalam
bidang tertentu dan berperan dalam pengembangan ilmu manajemen tersebut,
diantaranya adalah:
a.Henri
Fayol (l916): Bapak Theori
Administrasi Modern
Sebagaimana yang telah kita ketahui
bahwa praktik manajemen sudah berlangsung di era prasejarah, tetapi studi
manajemen yang sistematis masih relatif baru. Manajemen sebagai salah satu
bidang dari studi akademis merupakan produk yang sangat esensial pada abad
kedua puluh.
Manajemen modern berkembang dalam dua aliran.
Aliran pertama merupakan pengembangan dari aliran hubungan manusiawi yang
dikenal sebagai Perilaku Organisasi. Aliran kedua dibangun atas dasar ilmiah
dikenal sebagai aliran Kuantitatif (Operation Research dan Management Science
atau manajemen Operasi). Perkembangan aliran Perilaku Organisasi ditandai
dengan pandangan dan pendapat baru tentang perilaku. manusia dan sistem sosial.[7]Pada awal
pertumbuhan dan perkembangan budaya, manajemen merupakan sesuatu yang
dipelajari lewat lisan dan proses mencoba, bukan dipelajari di sekolah, dibaca
dan tertulis didalam buku teks. Juga, tidak berdasarkan pada teori dan
pengalaman.
Di era teknik teori mencetakan modern dan media
elektronika, ribuan ahli teori manajemen dan praktisi sudah meringkas dan
memadatkan serta dimuat di beberapa buku teks, jurnal periodic,
monograf-monograf riset, beberapa microfilm, video, tape audio, computer dan
berbagai hardisk. Hal ini memudahkan bagi para manajer, pelaku bisnis,
peneliti, periset, mahasiswa dan profesi lainnya untuk menimba pengalaman pada teori
yang diaplikasikan kedalam usaha yang faktual.
Perkembangan ilmu manajemen ini juga bertujuan
untuk membawa pada perubahan, yaitu perubahan disuatu sisi untuk memperbaiki
kemampuan organisasi dalam menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan disisi
lain, mengupayakan perubahan perilaku pekerja/ profesi untuk meningkatkan
produktivitasnya. Tetapi perubahan ini harus dilakukan dengan cara hati-hati
dengan mempertimbangkan berbagai hal agar manfaat yang ditimbulkan oleh
perubahan harus lebih besar daripada beban kerugian yang harus ditanggung.[8]
4.Pionir-Pionir
Manajemen
a.Frederick
Winslow Taylor
Bapak Gerakan Manajemen Ilmiyah, pionir pertama yang mengemukakan
idenya tentang manajemen dengan cara yang serba sistem ( menggunakan manajemen
dengan metode-metode ilmu pengetahuan ).
b.Henry
Fayol
Bapak Teori Administrasi Modern, pengembang pertumbuhan pemikiran
manajemen operasional modern lewat karya tulisnya Administration
Industrielle et Generale ( Administrasi Industri pada Umumnya, 1916 ).
c.Robert
Owen (1771-1858)
Bapak Manajemen Kepegawaian Modern, karena pemikiran manajemen yang
dikembangkan tentang semua hal yang berkenaan dengan kepegawaian. Dan juga
pengembang pemikiran perlunya Sumber Daya Manusia.[9]
d.Charles
Babbage (1792-1871)
Bapak Komputer, karena pemikirannya tentang perlunya pembagian
kerja dan penggunaan matematika dalam efisiensi penggunaan fasilitas dan
material produksi.
e.Hugo Munsterberg
Bapak Psikologi
Industri, karena ia telah mengembangkan pemikiran manajemen yang terkandung
didalamnya adalah peranan psikologi dalam meningkatkan produktivitas.[10]
f.James Watt dan M.R. Boulton
Pengembang
pemikiran teknik-teknik manajerial dan manajemen kepagawaian.
g.Gant, Frank B. Gilbert dan Lilian Gilbert
Pakar-pakar
pengikut F.W. Taylor yang mengembangkan pemikiran manajemen ilmiah dengan ilmu
pengetahuan.[11]
h.James D. Money dan Chester Barnard
Pakar ekonomi
sebagai pengikut Henry Fayol yang menuangkan pemikiran manajemen dengan teori
sistem.
i.Max Weber dan Elton Mayo
Pakar yang
mengetengahkan hubungan antarumat manusia dan mengemukakan teori birokrasi,
sebagai pengikut Hugo Munsterberg.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Perkembangan teori manajemen dimulai
dari teori manajemen klasik dengan pemikiran manajemen ilmiah dari F.W. Taylor
dan berkembang dengan pemikiran-pemikiran para pakar pada bidang-bidang
tertentu guna mewujudkan metode terbaik untuk melakukan tugas manajemen. Dan
mengembangkan teori pengelolaan organisasi yang mendasari manajemen yang
efektif.
Pada dasarnya manajemen terbentuk
atas beberapa faham dan aliran yang dikembangkan agar mudah dipahami oleh
manusia dan dapat dijalankan pada kehidupan pribadi maupun organisasi.
Perkembangan selanjutnya yaitu
dengan menekankan pendekatan sistem yang dipersatukan dan diarahkan dari
bagian-bagian yang saling berkaitan, dan memadukan antar aliran dalam suatu
sistem yang diterapkan menurut situasi dan lingkungan yang dihadapi.
DAFTAR PUSTAKA
Frinces, Z. Heflin, Manajemen Konsep Membangun Sukses, Jogjakarta:
Mida Pustaka, 2008
Nasution, M. Nur, Manajemen Perubahan, Bogor: Ghalia Indonesia,
2010
Siswanto, Pengantar Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005
Terry, George R. dan
Leslie W. Rue, Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1992
Zuhri, Menejemen (Beberapa Masalah Pokok),
Semarang, 1987